Tidak Punya Uang; Bolehkah Mengambil Uang Ayahnya Untuk Berhaji? Bolehkah Ia Digantikan Berhaji Jika Tidak Mampu Berhaji?

  • 3 min read
  • Aug 16, 2018
Uang

Soal:

Kapan ibadah haji menjadi sebuah kewajiban bagi kaum wanita? Apakah ada usia tertentu untuk itu? Bolehkah saya mengambil harta ayahku atau saya harus menunggu sampai saya punya uang? Bolehkah saya mewakilkan kepada orang lain untuk menghajikan diri saya?

Jawaban:

Pertama:

Ibadah haji wajib bagi orang yang sudah baligh dengan syarat memiliki kemampuan, baik ia pria maupun wanita, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan kewajiban umat manusia untuk Allah untuk menunaikan haji ke Baitullah (bagi) siapa yang mampu perjalanan ke sana.” (Ali Imran: 97)

Ayat ini bersifat umum mencakup kewajiban haji bagi orang yang mampu, baik pria maupun wanita.

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Dan (para ulama) telah berijma’ bahwa ibadah haji itu wajib bagi wanita jika ia mampu melakukannya.” (Lih: Syarh Shahih Muslim 4/148)

Berdasarkan itu, maka ibadah haji tidak dibatasi pada usia tertentu. Kapan pun seseorang mencapai usia baligh dan ia mampu secara finansial dan fisik untuk berhaji, maka ia harus segera menunaikan ibadah haji.

Sedangkan untuk wanita, ada syarat tambahan melebihi pria terkait syarat “kemampuan” tersebut, yaitu bahwa ia harus disertai mahramnya. Maka jika seorang wanita tidak mendapati mahram yang dapat mendampinginya menunaikan haji, maka ia tidak wajib menunaikannya dalam kondisi ini, meskipun secara finansial dan fisik ia mampu.

Kedua:

Seorang anak tidak berkewajiban untuk meminta uang dari ayahnya untuk menunaikan ibadah haji. Namun jika ayahnya memberikan uang untuk berhaji, maka tidak mengapa ia menerimanya dan menggunakannya untuk berhaji. Begitupula jika sang ayah mendaftarkan anaknya pada salah satu travel/agensi haji dimana ia yang menanggung semua biaya untuk itu, maka ini hal yang bagus. Termasuk salah satu bentuk nafkah yang disyariatkan, dan tidak ada masalah jika si anak menerimanya, apalagi jika ia tidak memintanya dari sang ayah.

Syekh al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Saya seorang siswa yang telah baligh. Namun saya tidak memiliki harta pribadi. Bolehkah saya meminta uang kepada ayah saya  untuk menunaikan ibadah haji sekarang? Atau saya menunggu sampai saya lulus dan bekerja untuk dapat berhaji dengan uang pribadi saya –dan itu pasti masih lama-?

Beliau rahimahullah menjawab:

“Ibadah haji tidak diwajibkan bagi seseorang jika ia tidak mempunyai dana untuk itu, meskipun ayahnya seorang yang kaya. Dan ia tidak berkewajiban meminta ayahnya untuk memberinya biaya untuk berhaji. Bahkan para ulama mengatakan: jika ayah Anda memberi Anda uang untuk berhaji, Anda tidak harus menerimanya. Anda boleh menolaknya dan mengatakan: ‘Saya belum mau berhaji dan haji (saat ini) tidak diwajibkan untuk saya.’

Sebagian ulama lain mengatakan:

‘Jika ada orang yang memberi Anda –entah itu ayah atau saudara kandung- dana untuk menunaikan ibadah haji, maka Anda wajib menerimanya dan menunaikan haji dengannya. Adapun jika yang memberikan Anda adalah orang lain yang Anda khawatir akan mengungkit-ungkit pemberiannya suatu hari nanti, maka Anda tidak harus menerimanya dan berhaji dengannya.’

Dan inilah pendapat yang benar.” (Lih. Majmu’ Fatawa Ibn ‘Utsaimin 21/94)

Kedua:

Mewakilkan orang lain untuk menggantikan dalam menunaikan ibadah haji hanya dibenarkan bagi orang yang tidak mampu menunaikan haji dengan fisiknya; baik karena usia lanjut, atau sakit yang susah diharapkan kesembuhannya. Maka yang seperti ini disyariatkan untuk mewakilkan kepada orang lain untuk menghajikannya jika ia mempunyai dana untuk itu.

Adapun jika secara fisik ia mampu namun tidak mempunyai biaya, atau ada seorang wanita mampu secara finansial dan fisik untuk menunaikan haji tapi tidak mempunyai mahram yang dapat berhaji bersamanya; maka dalam kondisi seperti ini tidak disahkan melakukan perwakilan (dalam menunaikan haji), karena ibadah haji pada dasarnya tidak diwajibkan atas keduanya, dan karena wanita ini bisa saja mendapatkan mahram yang dapat mendampinginya berhaji di masa datang.

Dijelaskan dalam Majmu’ Fatawa Ibn Baz (16/122):

“Tidak dibenarkan mewakilkan orang lain dalam menunaikan haji bagi orang yang sehat fisik meskipun ia fakir –baik haji yang sifatnya wajib atau sunnah-. Adapun yang tidak mampu karena usia lanjut atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka ia harus mewakilkan orang lain untuk menggantikannya menunaikan haji dan umrah yang wajib jika ia mampu untuk itu secara finansial, berdasarkan firman Allah Ta’ala: ‘Dan menjadi kewajiban umat manusia kepada Allah untuk menunaikan haji (bagi) siapa yang mampu menempuh jalannya.’”

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.info/ar/223524