Tidak Sah I’tikaf Laki-Laki dan Wanita kecuali di dalam Masjid

  • 2 min read
  • May 31, 2018

Pertanyaan:

Apakah boleh bagi wanita beri’tikaf di dalam rumahnya?

Jawaban:

Para ulama sepakat bahwasanya tidak sah i’tikaf seorang laki-laki kecuali di dalam masjid. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS: Al-Baqarah: 187)

Maka i’tikaf dikhususkan hanya di dalam masjid. Silahkan lihat al-Mughni, (4/461).

Sementara bagi wanita, maka jumhur ulama berpendapat bahwa (wanita) seperti halnya laki-laki, tidak sah i’tikafnya kecuali di dalam masjid berdasarkan ayat tadi:

“Dan janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS: Al-Baqarah: 187)

Karena istri-istri Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam meminta izin kepada beliau untuk beri’tikaf di dalam masjid dan mereka diberi izin. Mereka juga beri’tikaf di masjid sepeninggal beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam. Seandainya wanita dibolehkan beri’tikaf dalam rumahnya, maka pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan arahan kepada istri-istrinya, karena tersembunyinya seorang wanita di dalam rumahnya lebih utama daripada keluarnya ia ke masjid.

Sebagian ulama berpendapat bahwa sah i’tikaf seorang wanita di ‘masjid rumahnya’ yaitu tempat yang dikhususkan untuk shalat di dalam rumah.

Sementara jumhur ulama melarang hal itu dengan mengatakan, “Bahwa ‘masjid rumahnya’dinamakan masjid hanya sebatas istilah saja, akan tetapi pada hakikatnya itu bukan masjid, sehingga tidak mendapat hukum masjid. Oleh karena itu orang junub dan haid dibolehkan masuk ke dalamnya.” Silakan lihat “al-Mughni”, 4/464.

An-Nawawi Rahimahullah dalam al-Majmu, 6/505 mengatakan:

“I’tikaf laki-laki dan wanita tidak sah kecuali di dalam masjid. Tidak sah juga (i’tikaf) di ‘masjid rumah’ wanita dan tidak juga di ‘masjid rumah’ laki-laki. Yaitu (tempat) tersendiri yang dikhususkan untuk shalat.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah dalam “Majmu’ Fatawa” beliau, 20/264 ditanya:

“Jika seorang wanita ingin beri’tikaf, maka di manakah seharusnya ia beri’tikaf?”

Beliau menjawab:

“Seorang wanita jika hendak i’tikaf, maka dia beri’tikaf di dalam masjid selama tidak ada larangan syar’i dan jika ada, maka ia tidak diperbolehkan beri’tikaf.”

Dalam “al-Mausu’ah al-Fiqhiyah” (5/212):

“Mereka (para Ulama) berselisih pendapat terkait dengan tempat i’tikaf wanita. Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita seperti laki-laki, i’tikafnya tidak sah kecuali di dalam masjid. Dengan demikian,  i’tikaf di masjid rumahnya tidak sah.”

Berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ’anhuma ketika ditanya tentang seorang wanita yang bernadzar untuk i’tikaf di masjid rumahnya. Maka beliau menjawab:

“Itu adalah bid’ah. Perbuatan yang paling dibenci Allah adalah bid’ah. Tidak ada i’tikaf kecuali di dalam masjid yang didirikan shalat jama’ah di dalamnya. Karena ‘masjid rumah’hakikatnya bukanlah masjid, dan ia tidak mendapat hukum (masjid). Maka dibolehkan di dalamnya untuk mengganti pakaian dan orang junub boleh tidur. Begitu pula, jika dibolehkan beri’tikaf di masjid rumah, maka Ummahat al-Mukminin Radhiyallahu ‘anhunnapasti telah melakukannya walau hanya sekali sebagai bukti akan kebolehannya.”

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50025