Tujuan Utama dalam Beri’tikaf

  • 3 min read
  • May 31, 2018

Pertanyaan:

Mengapa kaum Muslimin meninggalkan i’tikaf? Padahal itu adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan apa tujuan dari beri’tikaf?

Jawaban:

Pertama:

I’tikaf termasuk sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunnah ini telah meredup di kalangan kaum Muslimin, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah. Dalam masalah ini, sebagaimana halnya banyak dari sunnah-sunnah lainnya yang hampir bahkan telah dilupakan kaum Muslimin dikarenakan beberapa sebab, di antaranya adalah:

  1. Lemahnya iman dalam jiwa kaum Muslimin.
  2. Berlebihan-lebihan dalam menerima kelezatan dan syahwat dunia yang berakibat ia tidak mampu menjauhinya meskipun hanya sejenak.
  3. Remehnya surga dalam jiwa kebanyakan manusia serta kecondongan mereka terhadap waktu istirahat dan bersantai. Mereka tidak ingin terbebani dengan kepayahan beri’tikaf meskipun hal itu (dilakukan) dalam menggapai keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka barangsiapa yang mengetahui keagungan surga serta kenikmatannya, maka ia pasti mengerahkan segenap jiwa dan hartanya untuk menggapainya. Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

أَلا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّة

“Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. al-Tirmidzy, dinyatakan shahih oleh al-Albany, 2450)

  1. Kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jiwa kebanyakan manusia hanya sebatas perkataan tanpa perbuatan. Dan amalan yang dapat merealisasikan penerapan sunnah Nabi Muhammad dari berbagai sisi di antaranya adalah ibadah i’tikaf. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini, (3/756):

“Ini merupakan landasan utama yang terbesar dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam perkataan, perbuatan dan kondisinya.”

Sebagian ulama salaf heran terhadap perihal manusia meninggalkan i’tikaf, padahal NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tekun melaksanakannya.

Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata:

“Sangat mengherankan kaum Muslimin yang meningalkan i’tikaf. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya mulai sejak beliau masuk Madinah sampai Allah mengambil ruhnya.”

Kedua:

I’tikaf yang selalu dilakukan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam di akhir hayatnya adalah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hari-hari yang terbatas tersebut bagaikan training tarbawy ‘pembinaan’ secara intensif yang mempunyai hasil positif yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan manusia. Dan juga mempunyai dampak positif terhadap kehidupan manusia ke depannya dalam menjalani kehidupannya sehari-harinya hingga ia bertemu dengan Ramadhan berikutnya.

Maka sungguh -wahai kaum Muslimin- kita sangat butuh untuk menghidupkan dan menjalankan sunnah ini dengan cara yang benar sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Sungguh kemenangan bagi orang yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah di antara kelalaian manusia dan kehancuran ummat.

Ketiga:

Tujuan dasar dari i’tikaf Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah ingin mendapatkan malam Lailatul Qadar.

Diriwayatkan oleh Muslim, 1167 dari Abu Sa’id al-Khudry Radhiyallahu ’anhu berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ (أي : خيمة صغيرة) عَلَى سُدَّتِهَا (أي : بابها) حَصِيرٌ قَالَ : فَأَخَذَ الْحَصِيرَ بِيَدِهِ فَنَحَّاهَا فِي نَاحِيَةِ الْقُبَّةِ ، ثُمَّ أَطْلَعَ رَأْسَهُ فَكَلَّمَ النَّاسَ ، فَدَنَوْا مِنْهُ ، فَقَالَ : إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ، ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي : إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh awal Ramadhan. Kemudian beri’tikaf pada sepuluh tengah Ramadhan di tenda kecil yang mana di pintunya terdapat tikar.

Berkata (Abu Said): ‘Beliau kemudian mengambil tikar dengan tangannya dan membentangkannya di sisi tenda. Kemudian beliau mengeluarkan kepalanya untuk berbicara dengan manusia. Lalu mereka pun mendekati beliau.

Beliau bersabda,

 ‘Sesungguhnya saya telah beri’tikaf pada sepuluh pertama untuk mendapatkan (keutamaan) malam ini (Lailatul Qadar). Kemudian saya telah beri’tikaf pada sepuluh pertengahan, kemudian saya didatangi lalu dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya ia (malam Lailatul Qadar) berada pada sepuluh akhir.’ Barangsiapa di antara kalian yang ingin beri’tikaf, maka beri’tikaflah (pada sepuluh terakhir).

Maka orang-orang pun beri’tikaf bersama beliau.”

Dalam hadits ini terdapat banyak sekali  faidah, diantaranya:

  1. Bahwa tujuan utama dari i’tikaf Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mencari malam Lailatul Qadar, bersiap menyambut dan menghidupkannya dengan beribadah. Hal demikian dikarenakan betapa agungnya keutamaan malam tersebut. Allah Ta’alaberfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul qadar itu lebih mulia dibanding dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

  1. Kesungguhan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam mencarinya sebelum mengetahui waktunya. Sebagaimana beliau memulai (mencarinya) pada sepuluh pertama, kemudian pada sepuluh pertengahan. Dan beliau tetap melanjutkan i’tikaf sampai akhir bulan Ramadhan ketika beliau mengetahui bahwa malam tersebut berada pada sepuluh terakhir. Yang demikian itu adalah puncak kesungguhan dalam menggapai malam Lailatul Qadar.
  2. Kesungguhan para sahabat Radhiyallahu ’anhum dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana mereka memulai i’tikaf dan tetap lanjut bersama beliau sampai akhir Ramadhan. Hal itu menunjukkan keseriusan mereka dalam mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Kemurahan hati dan kasih sayang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat-sahabatnya. Beliau mengetahui kepenatan dalam beri’tikaf, maka beliau pun memberi mereka pilihan antara meneruskan beri’tikaf bersamanya atau keluar dengan mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin beri’tikaf, maka silahkan beri’tikaf.”

Disamping itu, i’tikaf memiliki tujuan-tujuan lain, di antaranya:

  1. Memutus hubungan dengan manusia sebisa mungkin, hingga kedekatannya dengan Allah ‘Azza wa Jalla lebih sempurna.
  2. Memperbaiki hati semaksimal mungkin untuk menghadap Allah Tabaaraka wa Ta’alasecara utuh.
  3. Memutus hubungan (dari dunia) secara total dengan mengerjakan ibadah-ibadah seperti: shalat, berdoa, dzikir dan tilawah al-Qur’an.
  4. Menjaga puasa dari segala yang dapat mempengaruhinya berupa keinginan-keinginan jiwa maupun godaan syahwat.
  5. Meminimalisir perkara mubah dari urusan-urusan dunia dan bersikap zuhud atas semua itu sedangkan ia mampu mendapatkannya.

Silahkan lihat buku “Al-I’tikaf, Nazhrah Tarbawiyyah” karya DR. Abdul Latif Baltha.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/49007

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *