Tuntunan I’tikaf Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

  • 3 min read
  • May 29, 2018

Pertanyaan:

Saya ingin mengetahui tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beri’tikaf.

Jawaban:

Tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tuntunan yang paling sempurna dan paling mudah.

Suatu ketika beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadhan, kemudian lanjut sepuluh hari pertengahan untuk mencari malam Lailatul Qadar, berikutnya semakin jelas bagi beliau bahwa malam tersebut terdapat pada sepuluh malam terakhir, maka setelah itu beliau secara kontinyu melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga ia bertemu Rabbnya ‘Azza wa Jalla.

“Suatu ketika beliau meninggalkan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir (Ramadhan), maka beliau menggantinya dengan beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Syawal.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

“Ketika pada tahun kematiannya, beliau melaksanakan i’tikaf selama 20 hari.” (HR. Al-Bukhary, no. 2040)

Dikatakan, bahwa sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf lebih lama karena beliau telah mengetahui ajalnya, maka beliau ingin memperbanyak amal kebaikan sebagai penjelasan kepada umatnya tentang kesungguhan dalam beramal, agar mereka menghadap Allah dengan kondisi yang paling baik.

Dan adapula yang mengatakan, sebabnya adalah karena Jibril menyimak al-Qur’an darinya satu kali pada setiap Ramadhan, namun pada tahun kematiannya Jibril menyimaknya sebanyak dua kali, oleh karena itu beliau beri’tikaf dua kali lebih banyak dari sebelumnya.

Namun pendapat yang paling kuat adalah karena pada tahun sebelumnya beliau tidak melaksanakan i’tikaf disebabkan beliau bersafar.

Hal ini ditunjukkan oleh riwayat al-Nasa’i dan Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan selainnya, dari hadits Ubai bin Ka’ab:

أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْر الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَان، فَسَافَرَ عَامًا فَلَمْ يَعْتَكِف، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اِعْتَكَفَ عِشْرِين

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melakukan i’tikaf pada sepuluh terakhir Ramadhan. Lalu pada suatu tahun beliau bersafar hingga tidak sempat beri’tikaf. Maka pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf dua puluh hari.” (Lih: Fath al-Bari oleh Ibnu Hajar)

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dibuatkan tenda kecil di dalam masjid, maka dibuatkanlah, lalu beliau berdiam di dalamnya agar bisa menghindari manusia serta fokus menghadap Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala, hingga sempurnalah khalwatnya (menyendirinya) dalam bentuk yang sebenarnya.

“Suatu saat beliau beri’tikaf di kemah kecil dan meletakkan tikar di pintunya.” (HR. Muslim, no. 1167)

Ibnu al-Qayyim berkata dalam kitab “Zaad al-Ma’ad”, 2/90:

“Semua itu agar bisa mencapai maksud dan ruh dari i’tikaf itu sendiri. Berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang bodoh yang mana mereka menjadikan i’tikaf sebagai tempat bersenang-senang dan menarik pengunjung serta tempat bercakap-cakap. Cara i’tikaf mereka sangat berbeda dengan i’tikaf Nabi.

Beliau selalu berada di dalam masjid, dan tidak keluar kecuali untuk memenuhi hajat. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata,

وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا . وفي رواية لمسلم : إِلا لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ

“Ketika beri’tikaf, beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali jika memiliki hajat.” (HR. Bukhari, no. 2029 dan Muslim, no. 297)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Kecuali untuk memenuhi hajat manusia.”

Az-Zuhri menafsirkannya dengan buang air kecil dan besar.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjaga kebersihannya. Beliau pernah menjulurkan kepalanya dari masjid ke kamar Aisyah, lalu ia mencucikan rambutnya dan menyisisirnya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhary (2028) dan Muslim (297) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyodorkan kepalanya kepadaku saat beliau beri’tikaf di masjid, maka aku pun menyisirnya sedang aku dalam keadaan haid.”

Dalam riwayat Muslim, “Maka aku pun mencucinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

“Hadits ini menunjukkan bolehnya membersihkan diri, memakai minyak wangi, mandi, mencukur, dan berhias karena serupa dengan menyisir. Dan mayoritas ulama berpendapat bahwa suatu aktivitas tidaklah makruh kecuali apa yang dimakruhkan untuk dilakukan di dalam masjid.”

Termasuk dari tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beri’tikaf agar tidak menjenguk orang sakit dan tidak mengiringi jenazah. Demikian itu agar ia berkonsentrasi penuh dalam bermunajat kepada Allah Ta’ala dan juga merealisasikan hikmah dari i’tikaf yaitu memutuskan hubungan dengan manusia untuk mendekat kepada Allah Ta’ala.

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لا يَعُودَ مَرِيضًا ، وَلا يَشْهَدَ جَنَازَةً ، وَلا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلا يُبَاشِرَهَا ، وَلا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلا لِمَا لا بُدَّ مِنْهُ

‘Aisyah berkata: “Sunnah bagi orang yang beri’tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak mengiringi jenazah, tidak menyentuh dan mencumbui istri serta tidak keluar dari masjid kecuali karena kebutuhan yang mendesak.” (HR. Abu Daud no. 2473 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Daud”)

“Tidak menyentuh dan mencumbui istri” maksudnya adalah senggama. Demikian dinyatakan oleh asy-Syaukani dalam Nail al-Authar.

Sebagian istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya saat beliau sedang beri’tikaf. Ketika mereka pulang, maka beliau ikut mengantarkannya. Hal itu terjadi di malam hari.

عن صَفِيَّةَ زَوْج النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ، ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا.

Dari Shafiyah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwa dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemuinya saat beliau beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lalu dia berbincang-bincang sesaat dengannya. Kemudian bangkit untuk pulang, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut bangkit mengantarkannya ke rumah.” (HR. Al-Bukhary no. 2035 dan Muslim no. 2175)

Kesimpulan: Praktek i’tikaf Nabi Shallallahu ‘alaihi  wa sallam menggambarkan kemudahan dan tidak memberatkan. Semua waktunya beliau gunakan hanya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dan mendekat kepada-Nya dengan ketaatan demi mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Lihat “Zaad al-Ma’ad“, karya Ibnu al-Qayyim, 2/90, dan “al-I’tikaf Nazratun Tarbawiyah” karya DR. Abdullatif Baltha.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/12658