Waktu Masuk dan Keluar dari Masjid saat Beri’tikaf

0
84

Pertanyaan:

Saya ingin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, yang ingin saya tanyakan kapan saya mulai memasuki masjid dan kapan waktu keluar?

Pertanyaan:

Pertama:

Terkait tentang masuknya orang yang akan beri’tikaf ke dalam masjid, maka mayoritas ulama (diantaranya Imam Madzhab besar yang empat: Abu Hanifah, Malik, al-Syafi’i dan Ahmad Rahimahumullah) berpendapat bahwa bagi orang yang ingin beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan, maka hendaklah dia memasuki masjid sebelum terbenamnya matahari pada malam kedua puluh satu Ramadan.

Mereka berdalil akan hal tersebut dengan beberapa dalil, diantaranya:

  1. Terdapat bukti yang valid bahwa, “Nabi Shallallahu ’alihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hal ini menunjukkan bahwa beliau beri’tikaf pada malam-malamnya dan bukan pada siangnya. Karena kata ‘asyrun sepuluh’ (dalam bahasa Arab) cocok untuk kata layaali ‘malam-malam’.

Allah Ta’ala berfirman,

 وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Dan demi malam sepuluh.” (QS. al-Fajr: 2)

Maka sepuluh malam terakhir Ramadan dimulai dari malam kedua puluh satu. Dengan demikian, maka hendaklah memasuki masjid sebelum terbenamnya matahari pada malam kedua puluh satu.

  1. Mereka berkata, “Sesungguhnya tujuan yang paling agung dari beri’tikaf adalah mendapatkan malam Lailatul Qadar, dan malam kedua puluh satu termasuk malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan maka ada kemungkinan malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar, maka seyogyanya orang yang ingin beri’tikaf sudah berada di dalam masjid.” Hal ini dikatakan oleh as-Sindy dalam Hasyiyah al-Nasa’i’. Silahkan lihat al-Mughni, 4/489.

Akan tetapi diriwayatkan oleh al-Bukhary no. 2041 dan Muslim no. 173 dari ‘Aisyah Radhiyallahu ’anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika ingin beri’tikaf, beliau shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.”

Sebagian ulama salaf berpendapat sebagaimana yang tampak dari hadits tersebut bahwa beliau memasuki tempat i’tikafnya setelah melaksanakan shalat fajar. Pendapat ini juga dipakai oleh ulama-ulama al-Lajnah ad-Daimah, 10/411 dan Syekh Ibnu Baz, 15/442.

Akan tetapi Jumhur ulama menjawab tentang hadits tersebut dengan salah satu dari dua jawaban:

Pertama:

Bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf sebelum terbenamnya matahari akan tetapi beliau tidak masuk ke tempat khusus i’tikafnya kecuali setelah shalat fajar.

An-Nawawi Rahimahullah berkata (tentang hadist):

إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِف صَلَّى الْفَجْر ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفه

 “Ketika beliau ingin beri’tikaf, maka ia shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.”

Hadist ini menjadi dalil orang yang berpendapat, bahwa “I’tikaf dimulai dari awal siang.” Dan inilah pendapat al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits dalam salah satu pendapatnya.

Sedangkan Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i dan Ahmad berpendapat, bahwa ia masuk sebelum matahari terbenam jika ingin i’tikaf sebulan atau i’tikaf sepuluh hari. Mereka menakwilkan hadits, bahwa beliau masuk ke tempat i’tikaf dan di dalamnya ia terputus (dari urusan dunia) kemudian menyendiri setelah shalat Subuh. Bukan berarti itu adalah waktu beliau memulai i’tikaf, akan tetapi beliau telah beri’tikaf dari sebelum maghrib (menetap) di dalam masjid. Dan ketika selesai mengerjakan shalat subuh, beliau baru menyendiri.

Jawaban Kedua:

Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah (pengikut Madzhab Hanabilah-edt) menjawab dengan menafsirkan hadits tersebut bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan hal itu (shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya) pada hari kedua puluh.

Al-Sindy mengatakan: “Jawaban ini yang paling mendekati teori dan lebih utama untuk dijadikan patokan.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah ditanya dalam “Fatawa al-Shiyam” hal, 501: “Kapan i’tikaf dimulai?” Beliau menjawab:

“Mayoritas ahli ilmu berpendapat bahwa i’tikaf dimulai dari malam kedua puluh satu, bukan dari fajar kedua puluh satu. Meskipun sebagian ulama berpendapat, bahwa permulaan i’tikaf dari fajar kedua puluh satu. Berdasarkan dalil dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ’anha yang diriwayatkan oleh al-Bukhary,

 Ketika (Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam) telah selesai shalat subuh, beliau masuk ke tempat i’tikafnya.

Akan tetapi jumhur ulama menjawab bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyendiri dari orang-orang dari sejak pagi, sedangkan niat beri’tikaf itu dimulai dari awal malam. Karena sepuluh malam terakhir dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari kedua puluh satu Ramadan.”

Beliau juga mengatakan di hal. 503:

“Masuknya orang yang beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir yaitu ketika terbenamnya matahari pada malam kedua puluh satu. Yang demikian karena itu adalah waktu masuknya sepuluh malam terakhir.

Hal ini tidak bertentangan dengan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ’anha hanya karena teksnya berbeda. Maka diambillah yang paling dekat dalam artian secara bahasa. Yaitu apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhary, 2041, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata,

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam beri’tikaf pada setiap Ramadan. Ketika beliau telah selesai shalat subuh, beliau lalu masuk ke tempat yang ia i’tikaf di dalamnya.”

Perkataannya: Ketika beliau telah selesai shalat subuh, beliau lalu masuk ke tempat yang ia i’tikaf di dalamnya.” Hal ini mengandung pemahaman bahwa beliau lebih dahulu berdiam, sebelum masuk ke dalamnya. Maksudnya berdiamnya beliau di masjid lebih dahulu daripada masuknya beliau ke tempat i’tikafnya. Karena kata ‘i’takafa’ adalah fi’il madhi (kata kerja masa lampau) dan arti dasar (sebuah kata) haruslah digunakan sesuai hakikatnya.”

Kedua:

Adapun terkait masalah keluarnya (berakhirnya), maka ia keluar dari tempat i’tikaf saat terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah ditanya:

“Kapan orang yang beri’tikaf keluar dari i’tikafnya? Apakah ia keluar setelah terbenamnya matahari pada malam hari raya ataukah setelah fajar hari raya?”

Beliau menjawab:

“Orang yang beri’tikaf keluar dari i’tikafnya saat Ramadan berakhir. Dan berakhirnya Ramadan dengan terbenamnya matahari pada malam hari raya.” (Lih: Fatawa al-Shiyam, hal. 502)

Tertulis dalam Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 10/411:

“Berakhirnya waktu i’tikaf sepuluh terakhir bulan Ramadan dengan terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadan.”

Jika dia memilih untuk tetap tinggal di masjid sampai setelah shalat fajar kemudian ia baru keluar dari tempat i’tikafnya menuju shalat ‘Ied maka tidak mengapa baginya, sebagian ulama salaf menganjurkan hal itu.

Imam Malik Rahimahullah mengatakan bahwa ia melihat sebagian ulama, ketika mereka beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan, mereka tidak pulang ke keluarga mereka hingga mereka selesai melaksanakan shalat ‘Ied bersama manusia. Malik mengatakan, “Hal tersebut sampai kepadaku dari ‘orang-orang mulia’ yang telah berlalu. Ini adalah hal yang paling saya sukai dari apa yang pernah saya dengar dalam masalah ini.”

An-Nawawi Rahimahullah mengatakan dalam al-Majmu, 6/323:

“Asy-Syafi’i dan pengikut-pengikutnya berkata, “Barangsiapa yang ingin mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan, maka hendaknya dia masuk masjid sebelum matahari terbenam pada malam kedua puluh satu, agar ia tidak melewatkan sesuatu apapun. Dan keluar (dari masjid) setelah matahari terbenam pada malam hari raya. Sama halnya apakah bulan tersebut sempurna (harinya) atau kurang. Dan yang lebih utama adalah berdiam diri pada malam hari raya di dalam masjid sampai ia melaksanakan shalat ‘Ied di dalamnya, atau ia keluar ke mushalla (lapangan) untuk shalat ‘Ied, jika manusia melaksanakan shalat di sana.”

Dan jika dia keluar dari i’tikaf langsung ke tempat shalat ‘Ied, maka dianjurkan untuk mandi dan berhias sebelum keluar. Karena hal itu termasuk sunnah berhari raya.

Sumber: https://islamqa.info/ar/14046

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here