Wanita Ini Berat Sekali Menjalani Puasa, Bolehkah Tidak Berpuasa?

0
89

Soal:

Saya sangat tersiksa menahan beratnya rasa haus di siang hari bulan Ramadhan sampai pada tahap muntah-muntah, pening tak tertahankan, badan lemas semua. Hal ini membuat saya terpaksa minum air saja, hati saya berkeping karena melakukan perbuatan ini, padahal saya selalu menjaga shalat, dzikir dan tilawah al-Qur’an.

Jawaban:

Allah Ta’ala mensyari’atkan puasa dalam bentuk syari’at yang mudah sekali. Karenanya Allah Ta’ala di tengah-tengah ayat-ayat tentang puasa menyisipkan kalimat ini,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, tidak ingin mempersulit kalian.”

Allah sendiri telah membolehkan bagi yang sakit untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Sakit yang membuat seseorang boleh tidak puasa adalah sakit yang memang benar adanya dan dikhawatirkan akan bertambah parah atau tertunda kesembuhannya, atau sakit yang dikhawatirkan baru akan muncul disebabkan puasa.

Berdasarkan ini, maka jika puasa menyebabkan penanya menjadi muntah-muntah, pusing berat karena badan lemah, maka tidak mengapa dia meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan. Lalu dia wajib mengqadha’nya di hari lain jika memang mampu. Jika dia diperkirakan tidak akan pernah mampu melaksanakan puasa qadha’ tersebut, maka wajib mengganti dengan fidyah, yaitu sebagai ganti setiap hari yang ditinggalkannya, dia memberi makan seorang miskin.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullahu Ta’ala pernah ditanya, “Bagaimana hukumnya orang yang membatalkan puasa wajibnya dengan alasan kehausan?”

Beliau menjawab,

“Hukumnya adalah haram. Selagi dia sedang melakukan puasa wajib baik saat bulan Ramadhan itu sendiri atau saat mengqadha’nya. Atau saat melakukan puasa kaffarah, atau puasa fidyah maka haram hukumnya untuk secara sengaja membatalkan puasa wajib tersebut. Namun jika rasa haus yang dirasakan mencapai taraf mengkhawatirkan dirinya bakal terkena bahaya atau bahkan bisa binasa, maka dia boleh meninggalkan puasa, dan tidak berdosa. Bahkan meskipun itu dilakukan di bulan Ramadhan, jika memang sampai pada titik yang membahayakan diri atau mengantarkan kematian, maka boleh tidak berpuasa.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (19/ soal no. 149)

Wallahu a’lam. 

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65633

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here