Wanita Ini Menderita Kelainan Jiwa, Bagaimanakah Dia Shalat Dan Puasa?

0
84

Soal:

Putriku mengidap kelainan jiwa yang berlangsung lama (berupa kejiwaan yang kacau). Pada bulan Ramadhan yang lalu dia tidak berpuasa sebulan penuh karena sedang kambuh sehingga tidak benar-benar waras. Jadilah saya menderita dalm mengurusinya berbulan-bulan lamanya. Apa yang harus saya lakukan?

Pertanyaan kedua: si anak ini jika sudah tidur saya tidak bisa membangunkannya untuk melaksanakan shalat apapun. Sampai dia sadarkan diri sendiri. Karena beratnya ujian yang harus saya tanggung darinya, apakah saya sebagi ibunya menanggung dosa?

Anak itu usianya sekarang menginjak 23 tahun, dia sudah menderita sakit sejak 4 tahun silam, tiap tahun mengalami dua kali kumat. Mohon doanya kiranya disembuhkan.

Jawaban:

Pertama,

Kita bermohon kepada Allah Ta’ala agar kiranya menyembuhkan putri anda ini dan menyelamatkannya juga memperbagus keadaannya.

Kedua,

Jika sakit ini parah sampai menghilangkan kesadarannya di tengah bulan Ramadhan. Maka dia tidak wajib menggantinya dengan puasa qadha’ maupun sedekah fidyah. Karena dalam kondisi demikian dia tidak terkena kewajiban puasa.

Namun jika sakitnya tidak terlalu parah, misalnya hanya agak mengigau, sementara dia masih sadar, bisa diajak bicara. Maka kondisinya ada dua macam:

Kondisi pertama, jika sakitnya ini bisa diharap sembuh menurut perkiraan dokter. Maka dia wajib mengqadha’ puasa yang terlewat. Hal itu dilaksanakan saat penyakitnya sudah hilang.

Kondisi kedua, jika sakitnya ini permanen dan tidak bisa diharap sembuh, maka dia tidak wajib puasa dan hanya wajib menunaikan fidyah, berupa pemberian makan untuk seorang miskin sebagai ganti perhari yang ditinggalkannya.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut,

“Seorang pasien sempat menjalani puasa Ramadhan beberapa hari. Lalu dia hilang kesadaran dan masih seperti itu hingga sekarang. Haruskah anak-anaknya mengqadha’ untuknya?”

Lalu beliau menjawab,

“Dia tidak wajib mengqadha’ jika dia terkena penyakit yang menyebabkannya hilang akal. Atau pingsan. Karena jika seseorang tetutup akal atau kesadarannya, maka dia tidak berkewajiban mengqadha’. Hal itu hukumnya sama dengan orang gila atau kurang waras, mereka tidak wajib mengqadha’. Kecuali jika pingsannya dalam waktu yang singkat, sehari-dua hari misalnya, atau maksimal tiga hari.

Maka tidak mengapa diqadha’ sebagai langkah hati-hati. Namun jika tidak sadarnya itu berlangsung lama, ia sama hukumnya dengan orang yang tidak waras. Tidak wajib mengqadha’. Jika Allah sudah mengembalikan kesadaran akalnya. Barulah dia harus siap mulai melaksanakan amal-amal itu.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh ibnu Baz (15/209)

Ketiga:

Jika putri anda ini tidak bisa dibangunkan untuk melaksanakan shalat tepat waktu, anda sendiri tidak mampu membangunkannya. Maka anda tidak berdosa, in syaa Allah. Namun jika dia sudah bangun, maka wajib mengqadha’ shalat yang terlewat itu. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ نَسِيَ صَلاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Siapa yang lupa sampai meninggalkan satu shalat, atau ketiduran hingga terlewat waktunya. Maka kaffarah(penebus dosa)-nya adalah melaksanakan shalat itu tepat saat teringat lagi.” (Hadits riwayat Muslim no. 684)

Jika melaksanakan semua shalat tepat sesuai waktunya itu memang sangat berat baginya, maka dia boleh menjama’ antara Zhuhur dan Ashar, juga antara Maghrib dan Isya’, boleh dilakukan baik secara taqdim maupun ta’khir tidak mengapa. Yang penting mudah dilakukan.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan,

“Mengqashar shalat hanya boleh dilakukan saat safar (perjalanan panjang). Di luar itu tidak boleh. Adapun bolehnya menjama’ shalat itu alasannya adalah adanya hajat (kebutuhan) dan udzur. Maka jika memang dibutuhkan, boleh menjama’ shalat dalam safar dengan jarak yang dekat maupun jauh, boleh juga menjama’ saat cuaca hujan atau semisalnya. Menjama’ saat sakit dan sejenisnya. Karena tujuan bolehnya jama’ adalah menghilangkan kesukaran yang dirasakan ummat.” (Lih: Majmu’ al Fatawa, 22/293)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/72212

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here