Wanita Ini Tidak Menemukan Orang Miskin Untuk Diberi Makanan Dari Fidyah Puasanya, Bolehkan Dia Menggantinya Dengan Sedekah Harta?

0
68

Soal:

Saya seorang wanita pengidap penyakit menahun. Dokter saya menyarankan agar saya tidak usah puasa selamanya. Tapi saya tidak bisa menemukkan orang miskin untuk diberi makan. Berapa yang harus saya infaqkan jika diuangkan?

Jawaban:

Kita bermohon kepada Allah, semoga Dia anugerahkan kesembuhan untuk anda. Dan menjadikan sakit anda ini sebagai penggugur dosa dan meninggikan derajat anda di akhirat kelak.

Seorang pengidap penyakit menahun yang tidak mampu melaksanakan puasa wajib maupun qadha’nya, maka dia tidak wajib berpuasa. Sebagai gantinya dia wajib memberi makan seorang miskin untuk tiap sehari yang dia tinggalkan itu. Berdasarkan kalam Allah yang berbunyi,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Bagi orang yang keberatan melaksanakan puasa itu maka wajib menggantinya dengan fidyah berupa pemberian makan untuk orang miskin.” (al-Baqarah (2):184)

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan,

“Ayat ini tidak dimansukh, maksud ayat ini adalah mengenai lelaki jompo mapun wanita tua renta yang tidak mampu melakukan puasa sama sekali. Maka wajib menggantinya dengan bersedekah makanan untuk seorang miskin sebagai ganti setiap hari yang dia tinggalkan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhary no. 4505)

Orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya hukumnya sama persis dengan orang yang lanjut usia ini.

Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan,

“Orang sakit yang tidak bisa diharapkan sembuh, tidak perlu berpuasa. Yang harus dia lakukan adalah memberi makan seorang miskin sebagai ganti untuk tiap hari yang dia tinggalkan. Karena nasibnya mirip dengan lelaki renta yang tak mampu puasa.” (Lih. al-Mughny, 4/396)

Negara-negara ummat muslim penuh dengan kaum fakir-miskin, yaitu mereka yang tidak memiliki pendapatan yang mencukupi untuk diri dan keluarganya.

Tidak ada satu negara pun yang bebas kemiskinan, meskipun mungkin di sebagian negara memang ada yang minim kemiskinan. Maka lembaga-lembaga amil zakat akan selalu eksis, di mana mereka mengurusi penerimaan dan penyaluran zakat, infaq dan sedekah untuk para mustahiqnya.

Bahkan, andaikatapun anda mengaku tidak menemukan seorang miskin untuk diberi makan, bagaimana anda akan mendistribusikan sejumlah uang yang senilai dengan harga makanan itu? Lalu akan diberikan kepada siapa harta itu? Ini semua menunjukkan bahwa masalahnya tidak selesai dengan mengubahnya dalam nilai uang. Maka tidak boleh menunaikan fidyah dalam bentuk uang. Bahkan andai kata boleh pun, tetap harus diberikan kepada yang berhak dari kalangan fakir-miskin.

Dengan demikian, maka yang wajib dilakukan adalah mengerahkan upaya untuk menemukan fakir-miskin di negara anda. Anda tidak harus mengenal mereka secara langsung, anda bisa mencari pelaksana yang anda percayai sifat amanahnya untuk menyalurkan fidyah makanan tersebut kepada mustahiqnya. Sama saja apakah pelaksana ini berupa individu atau lembaga amil-zakat.

Anda perlu tahu bahwa tidak sah menunaikan fidyah dalam bentuk harta meski dalam jumlah yang banyak, sebagai ganti fidyah dalam bentuk makanan sesuai kewajiban anda. Karena yang diwajibkan oleh Allah atas diri anda adalah “Tha’aamu miskiin” (memberi makan orang miskin). Allah dalam hal itu tidak mewajibkan sedekah harta. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Bagi orang yang keberatan melaksanakan puasa itu maka wajib menggantinya dengan fidyah berupa pemberian makan untuk orang miskin.” (al-Baqarah (2):184)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/66822

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here