Wanita Yang Menderita Kelumpuhan Otak Sejak Lahir Apakah Wajib Shalat Dan Puasa?

  • 2 min read
  • Jun 13, 2018

Soal:

Saya memiliki seorang saudari berusia dua puluh lima tahun, dia menderita stroke sejak lahir. Hal itu mengakibatkan kelumpuhan anggota tubuh yang lain. Ditambah lagi dia tidak mampu bicara (tuna wicara). Sejak kecil dia didudukkan di kursi, tidak bisa makan dan minum sendiri ataupun untuk ke toilet, semua dilakukan dengan bantuan. Ibulah yang menjadi perawatnya yang mengurusi kebutuhan makan, minum dan kebersihan dirinya. Dia tidak mampu melakukan semua itu sendiri.

Secara emosi dia bagus, bisa mengekspresikan bahagia ataupun sedih. Juga bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, mengerti pergantian waktu dan bisa mendengarkan murottal al-Qur’an.

Pertanyaannya: Apakah saudari saya ini dengan keadaan seperti itu tetap berkewajiban menunaikan semua amalan fardhu; seperti shalat, puasa dan haji, misalnya? Sementara dia tidak mampu melakukan wudhu secara mandiri. Tidak hafal bacaan al-Qur’an sedikitpun karena memang tidak mampu menghafal. Lalu dia juga tidak bisa duduk ataupun melakukan gerakan-gerakan dalam shalat. Saya sudah berkali-kali mencoba mengajarinya praktek shalat. Tapi, dia tidak bisa mengerti jumlah rakaat, sering lupa dan melakukan kesalahan, menoleh kanan-kiri, bahkan kadang tertawa tanpa terkendali. Lalu bagaimana pula dengan masalah puasa? Apakah dia wajib puasa atau boleh tak puasa? Atau dia tidak perlu puasa tapi harus dibayarkan sedekah (fidyah) untuknya?

Jawaban:

Jika keadaannya sesuai yang disebutkan, dan saudari ini tidak bisa memahami arti dan tata-cara shalat, tidak mengerti hakikat puasa berikut hukum-hukum yang berkaitan dengannya, maka dia tidak termasuk mukallaf (orang yang wajib mengemban hukum syari’at). Artinya dia tidak wajib melaksanakan segala kewajiban ibadah fardhu, karena ada kekurangan dalam akalnya. Yang mana hal itu menggugurkan kewajiban. Demikian itu sesuai sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ : عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (pencatat amalan) itu diangkat (artinya tidak digunakan mencatat amalan) dari tiga macam orang; orang yang tidur hingga dia terbangun, anak kecil hingga dia mencapai usia baligh dan orang yang akalnya tertutup hingga dia sadar/waras.” (Hadits riwayat Abu Dawud (4403), Tirmidzi (1423), Nasa’i (3432), Ibnu Majah (2041) dan dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Shahih Abi Dawud).

Karena wanita dengn kondisi seperti itu tidak terkena kewajiban taklif, maka dia juga tidak wajib bersedekah makanan (fidyah) sebagai pengganti puasa. Karena puasanya sendiri bagi dia tidak wajib. Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/108464